Tiupan
angin yang kencang membuat tumpukan lembaran kertas menjadi bertaburan. Wanita
ini pun dengan sontaknya langsung membereskan kertas-kertas berharganya itu.
Sayangnya, salah satu kertasnya terjatuh tepat di atas genangan air. Rasa
kecewa pun tak dapat disembunyikan dari wajah si wanita berambut pirang
tersebut.
Ia adalah Rici. Wanita yang duduk di bangku
sekolah menengah atas ini selalu menyendiri di sebuah taman ketika sore hari.
Melukis dan bermain gitar adalah teman setianya sejak kecil. Ia bisa merasakan
kebahagiaan sekaligus rasa nyamannya melalui hobi itu. Wajar saja jika salah
satu lukisannya yang rusak membuatnya kecewa.
Hari
demi hari ia selalu mengisi kehidupannya seperti ini. Mungkin, hobinya bisa
menjadi teman yang membuatnya bahagia. Namun, tetap saja ia tidak merasakan
kebahagiaan yang sesungguhnya. Menyendiri dan jauh dari teman-teman.
Masa
SMA adalah masa yang terindah bagi anak remaja ketika ia memiliki banyak
sahabat dan bisa bermain bersama. Sayangnya, Rici tidak mendapatkan kesempatan
itu. “Introvert” menjadi julukan
baginya yang baru pindah dari luar kota. Rasa
geram pun berkecamuk di dalam hati.
Memang,
semenjak pindah dari Jakarta, Rici belum bisa membaur dengan mereka. Bukan ia
yang tidak ingin menyesuaikan dengan lingkungan sekolahnya, melainkan teman-temannya
yang justru menjauhi Rici. Mereka merasa Rici tak mau bergaul dengan anak-anak
desa seperti mereka.
Rici
dan keluarga pun terpaksa pindah ke salah satu kota di Sulawesi karena
ayahnya mendapat tugas di daerah tersebut dalam waktu jangka panjang. Hal
itulah membuat Rici sangat terpukul ketika berpisah dengan sahabatnya yang
ada di Jakarta. Walaupun saling mengontak melalui media sosial, tetap saja Rici
masih merasa kesepian.
Sikap
teman-teman sekelasnya membuat Rici terperangkap dalam situasi. Hanya hobilah
yang menemani di kala ia menyendiri. Itu sebabnya mereka menganggap bahwa Rici anak
introvert. Hingga suatu hari Rici pun
berada di titik jenuhnya.
“Kalianlah yang buat aku menjadi introvert. Kalian juga yang tidak mau
mendengarkan penjelasanku mengapa aku selalu mengurung diri. Aku sudah beri tahu
alasannya, tapi apakah kalian mendengarkanku?”
Lantangan
suara gadis pirang dengan gemetar membuat suasana kelas menjadi sunyi. Ya, sunyi
bagaikan rumah kosong yang tak berpenghuni. Air mata pun kembali membasahi
wajah Rici.
Bayang-bayang
julukan “introvert” ini terus
menghantuinya. Hingga bel
istirahat berbunyi, Rici pun langsung pergi ke musala yang berada di ujung
sudut sekolah.
Basuhan
air wudu membuat hati dan pikirannya sedikit tenang. Bersujud di hadapan Allah
menjadi solusi untuk mencurahkan seluruh kerisauannya. Ke mana Rici yang
sebenarnya? Rici yang dikenal dengan anak yang ramah, asyik, dan menyenangkan
menjadi hilang begitu saja.
Ketika
kedua tangan menyapu air matanya yang terus mengalir, tiba-tiba datang seseorang
dari belakang yang menghampiri Rici. Rupanya Cindi yang merupakan teman sekelas Rici. Cindi
pun tersenyum melihat raut wajah Rici yang begitu kaget. Ternyata, selama ini
Cindi selalu memperhatikan Rici sejak awal masuk sekolah dan pernah
melihat Rici menangis di sebuah taman.
“Aku
tidak seburuk yang mereka pikirkan. Jika memang aku introvert, apakah mereka pantas memperlakukan aku seperti itu?”. Ucapan Rici dengan isak tangis ketika di taman itulah yang menyakini hati Cindi
bahwa Rici tak seburuk yang mereka pikirkan. Cindi
pun langsung memeluk Rici. Cindi percaya bahwa Rici sebenarnya anak yang menyenangkan.
Rici pun terharuh karena di saat ia sudah terpuruk, ada saja yang membuatnya
bangkit.
Cindi
pun selalu memberikan dukungan kepada Rici bahwa ia harus bangkit, walaupun
masih ada teman-teman yang terus mengucilkannya. Benar saja, semakin hari Rici
semakin percaya diri. Hingga suatu hari diadakannya kompetisi drama musikal
antarkelas di sekolahnya. Kembali lagi, rasa kekhawatiran terus menghampiri Rici.
“Aku
tak yakin apakah aku bisa ikut tampil. Masih banyak teman sekelas yang masih
tidak suka denganku,”
“Justru
dari sanalah kamu bisa buktikan diri kamu yang sebenarnya, Rici,” ujar Cindi
dengan senyum yang merekah.
Memang,
semangat Cindi ini benar-benar membuat Rici semakin percaya diri. Hingga suatu
hari mereka pun kumpul untuk berdiskusi mengenai konsep yang akan dibawa.
Tiba-tiba, “Rici punya ide bagus nih kawan,” teriak Cindi dengan nada semangat.
Rici pun kaget dengan sikap Cindi tersebut.
Memang,
beberapa hari sebelum diskusi ketika Rici sedang di taman sambil membawa
gitarnya, ia sempat memikirkan konsep apa yang kiranya bagus yang akan
ditampilkan oleh kelasnya. Dari situlah Rici menemukan sebuah ide. Ketua
kelas pun memberikan kesempatan kepada Rici untuk memaparkan konsepnya itu.
Ragu,
takut, dan deg-degan bercampur menjadi satu. Tatapan sinis teman-temannya
membuat Rici menjadi gugup. Mengapa semua ini membuat Rici menjadi tertekan?
Namun,
senyuman lesung pipit Cindi ditambah dengan dukungan penuh semangat membuat
Rici menjadi sedikit lebih tenang. Tak terduga jika ternyata semua teman
sekelasnya setuju dengan konsep Rici. Mereka
pun akhirnya latihan setiap tiga kali dalam seminggu. Kini, teman-teman Rici
sadar bahwa Rici bukanlah seburuk yang mereka pikirkan.
Hingga
perlombaan pun tiba, mereka menyiapkan semuanya agar penampilannya maksimal.
Begitu juga dengan Rici, ia menyiapkan beberapa perlengkapan, salah satunya si
gitar kesayangannya. Namun, insiden pun terjadi membuat Rici dan teman-temannya
menjadi panik seketika.
“Senar
gitarmu putus, Rici. Bagaimana ini? Apakah kita masih bisa melanjutkan drama
musikal ini?” bisik Rio si ketua kelas. Ternyata, jauh-jauh
hari, Rici sudah menyiapkan beberapa botol bekas berisikan pasir dan beras
serta beberapa galon kosong yang digunakan untuk kondisi darurat. Rici pun
melakukan ini karena ia pernah di satu situasi yang sama pada saat pementasan
ketika masih SMP.
Akhirnya,
semua pun kembali berpentas dengan maksimal hingga pertunjukkan mereka selesai.
Teman-teman sekelas Rici pun memuji ide dan kerja kerasnya selama ini. Walaupun
tidak semaksimal seperti saat latihan, setidaknya mereka dapat menyiasatinya
dengan baik. Sayangnya, kemenangan belum diraih oleh kelas Rici.
Mereka pun
tetap menghargai keputusan juri dan mengakui bahwa penampilan kelas lain jauh
lebih baik dari mereka. Namun, tetap saja kelas-kelas lain dan semua guru mengapersiasi
kekompakan mereka.
“Aku
bangga padamu, Rici. Kamu tidak hanya baik, menyenangkan, tetapi juga cerdas
dan mempunyai jiwa semangat yang tinggi. Aku kagum padamu. Selama ini kami
salah menilaimu, maafkan kami semua ya Rici karena kami selalu menilaimu
buruk,” ucap Naya, salah satu teman sekelas Rici.
Kini,
senyum Rici semakin merekah dan wajahnya pun berseri. Memang, ia kesal dengan
teman-teman barunya yang memandang anak introvert
itu buruk. Ia juga menggerutu dalam hati mengapa ia disebut dengan perkaatan
itu. Akan tetapi, ia menganggap bahwa introvert
tidaklah seburuk yang Rici bayangkan.
Awalnya,
menyendiri itu tidak menyenangkan menurut Rici. Ia tidak punya teman curhat
untuk berbagi kisah. Hidupnya pun terasa hampa begitu saja. Ditambah lagi, teman-temannya
tak mau bergaul dengannya.
Banyak
yang mengatakan jika orang yang suka menyendiri dan tidak suka bergaul adalah anak
introvert. Banyak orang yang
memandang bahwa anak introvert itu
“anti sosial”. Namun, setelah Rici merasakannya, ia berpendapat bahwa introvert tak seburuk orang pikirkan.
Tak
semestinya orang dapat menyimpulkan bahwa anak introvert adalah mereka yang tak suka bergaul alias anti sosial. Bagi
Rici, justru ada masanya juga kita bisa menjadi introvert atau menyendiri. Masih ada sisi positif yang dapat kita
ambil ketika menyendiri, seperti menyegerkan pikiran dan batin, serta menemukan
ide-ide baru. Namun, tetap saja bersosial itu juga terpenting.
Kini
Rici pun telah menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Ia pun bersyukur
karena bisa setegar ini, walaupun banyak cobaan yang diterimanya. Rici yang
ceria membuat teman-teman sekelasnya bahagia dan bersyukur mempunyai sahabat
seperti Rici.
Selesai
Vivi Noer Febdra
1 komentar:
Ceritanya sederhana, tapi nilqi moralnya bagus banget. Ga nyesel bacanya.
Posting Komentar