Sabtu, 13 Oktober 2018

Apakah Introvert Terlalu Buruk?


Tiupan angin yang kencang membuat tumpukan lembaran kertas menjadi bertaburan. Wanita ini pun dengan sontaknya langsung membereskan kertas-kertas berharganya itu. Sayangnya, salah satu kertasnya terjatuh tepat di atas genangan air. Rasa kecewa pun tak dapat disembunyikan dari wajah si wanita berambut pirang tersebut.

 Ia adalah Rici. Wanita yang duduk di bangku sekolah menengah atas ini selalu menyendiri di sebuah taman ketika sore hari. Melukis dan bermain gitar adalah teman setianya sejak kecil. Ia bisa merasakan kebahagiaan sekaligus rasa nyamannya melalui hobi itu. Wajar saja jika salah satu lukisannya yang rusak membuatnya kecewa. 

Hari demi hari ia selalu mengisi kehidupannya seperti ini. Mungkin, hobinya bisa menjadi teman yang membuatnya bahagia. Namun, tetap saja ia tidak merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Menyendiri dan jauh dari teman-teman. 

Masa SMA adalah masa yang terindah bagi anak remaja ketika ia memiliki banyak sahabat dan bisa bermain bersama. Sayangnya, Rici tidak mendapatkan kesempatan itu. “Introvert” menjadi julukan baginya yang baru pindah dari luar kota. Rasa geram pun berkecamuk di dalam hati.

Memang, semenjak pindah dari Jakarta, Rici belum bisa membaur dengan mereka. Bukan ia yang tidak ingin menyesuaikan dengan lingkungan sekolahnya, melainkan teman-temannya yang justru menjauhi Rici. Mereka merasa Rici tak mau bergaul dengan anak-anak desa seperti mereka. 

Rici dan keluarga pun  terpaksa pindah ke salah satu kota di Sulawesi karena ayahnya mendapat tugas di daerah tersebut dalam waktu jangka panjang. Hal itulah membuat Rici sangat terpukul ketika berpisah dengan sahabatnya yang ada di Jakarta. Walaupun saling mengontak melalui media sosial, tetap saja Rici masih merasa kesepian.

Sikap teman-teman sekelasnya membuat Rici terperangkap dalam situasi. Hanya hobilah yang menemani di kala ia menyendiri. Itu sebabnya mereka menganggap bahwa Rici anak introvert. Hingga suatu hari Rici pun berada di titik jenuhnya. 

 “Kalianlah yang buat aku menjadi introvert. Kalian juga yang tidak mau mendengarkan penjelasanku mengapa aku selalu mengurung diri. Aku sudah beri tahu alasannya, tapi apakah kalian mendengarkanku?”

Lantangan suara gadis pirang dengan gemetar membuat suasana kelas menjadi sunyi. Ya, sunyi bagaikan rumah kosong yang tak berpenghuni. Air mata pun kembali membasahi wajah Rici.
Bayang-bayang julukan “introvert” ini terus menghantuinya. Hingga bel istirahat berbunyi, Rici pun langsung pergi ke musala yang berada di ujung sudut sekolah. 

Basuhan air wudu membuat hati dan pikirannya sedikit tenang. Bersujud di hadapan Allah menjadi solusi untuk mencurahkan seluruh kerisauannya. Ke mana Rici yang sebenarnya? Rici yang dikenal dengan anak yang ramah, asyik, dan menyenangkan menjadi hilang begitu saja.  

Ketika kedua tangan menyapu air matanya yang terus mengalir, tiba-tiba datang seseorang dari belakang yang menghampiri Rici. Rupanya Cindi yang merupakan teman sekelas Rici. Cindi pun tersenyum melihat raut wajah Rici yang begitu kaget. Ternyata, selama ini Cindi selalu memperhatikan Rici sejak awal masuk sekolah dan pernah melihat Rici menangis di sebuah taman.
 
“Aku tidak seburuk yang mereka pikirkan. Jika memang aku introvert, apakah mereka pantas memperlakukan aku seperti itu?”. Ucapan Rici dengan isak tangis ketika di taman itulah yang menyakini hati Cindi bahwa Rici tak seburuk yang mereka pikirkan. Cindi pun langsung memeluk Rici. Cindi percaya bahwa Rici sebenarnya anak yang menyenangkan. Rici pun terharuh karena di saat ia sudah terpuruk, ada saja yang membuatnya bangkit.

Cindi pun selalu memberikan dukungan kepada Rici bahwa ia harus bangkit, walaupun masih ada teman-teman yang terus mengucilkannya. Benar saja, semakin hari Rici semakin percaya diri. Hingga suatu hari diadakannya kompetisi drama musikal antarkelas di sekolahnya. Kembali lagi, rasa kekhawatiran terus menghampiri Rici.
“Aku tak yakin apakah aku bisa ikut tampil. Masih banyak teman sekelas yang masih tidak suka denganku,”
“Justru dari sanalah kamu bisa buktikan diri kamu yang sebenarnya, Rici,” ujar Cindi dengan senyum yang merekah. 

Memang, semangat Cindi ini benar-benar membuat Rici semakin percaya diri. Hingga suatu hari mereka pun kumpul untuk berdiskusi mengenai konsep yang akan dibawa. Tiba-tiba, “Rici punya ide bagus nih kawan,” teriak Cindi dengan nada semangat. Rici pun kaget dengan sikap Cindi tersebut.

Memang, beberapa hari sebelum diskusi ketika Rici sedang di taman sambil membawa gitarnya, ia sempat memikirkan konsep apa yang kiranya bagus yang akan ditampilkan oleh kelasnya. Dari situlah Rici menemukan sebuah ide. Ketua kelas pun memberikan kesempatan kepada Rici untuk memaparkan konsepnya itu.

Ragu, takut, dan deg-degan bercampur menjadi satu. Tatapan sinis teman-temannya membuat Rici menjadi gugup. Mengapa semua ini membuat Rici menjadi tertekan?
 
Namun, senyuman lesung pipit Cindi ditambah dengan dukungan penuh semangat membuat Rici menjadi sedikit lebih tenang. Tak terduga jika ternyata semua teman sekelasnya setuju dengan konsep Rici. Mereka pun akhirnya latihan setiap tiga kali dalam seminggu. Kini, teman-teman Rici sadar bahwa Rici bukanlah seburuk yang mereka pikirkan. 

Hingga perlombaan pun tiba, mereka menyiapkan semuanya agar penampilannya maksimal. Begitu juga dengan Rici, ia menyiapkan beberapa perlengkapan, salah satunya si gitar kesayangannya. Namun, insiden pun terjadi membuat Rici dan teman-temannya menjadi panik seketika.

“Senar gitarmu putus, Rici. Bagaimana ini? Apakah kita masih bisa melanjutkan drama musikal ini?” bisik Rio si ketua kelas. Ternyata, jauh-jauh hari, Rici sudah menyiapkan beberapa botol bekas berisikan pasir dan beras serta beberapa galon kosong yang digunakan untuk kondisi darurat. Rici pun melakukan ini karena ia pernah di satu situasi yang sama pada saat pementasan ketika masih SMP. 

Akhirnya, semua pun kembali berpentas dengan maksimal hingga pertunjukkan mereka selesai. Teman-teman sekelas Rici pun memuji ide dan kerja kerasnya selama ini. Walaupun tidak semaksimal seperti saat latihan, setidaknya mereka dapat menyiasatinya dengan baik. Sayangnya, kemenangan belum diraih oleh kelas Rici. 

Mereka pun tetap menghargai keputusan juri dan mengakui bahwa penampilan kelas lain jauh lebih baik dari mereka. Namun, tetap saja kelas-kelas lain dan semua guru mengapersiasi kekompakan mereka.
 
“Aku bangga padamu, Rici. Kamu tidak hanya baik, menyenangkan, tetapi juga cerdas dan mempunyai jiwa semangat yang tinggi. Aku kagum padamu. Selama ini kami salah menilaimu, maafkan kami semua ya Rici karena kami selalu menilaimu buruk,” ucap Naya, salah satu teman sekelas Rici. 

Kini, senyum Rici semakin merekah dan wajahnya pun berseri. Memang, ia kesal dengan teman-teman barunya yang memandang anak introvert itu buruk. Ia juga menggerutu dalam hati mengapa ia disebut dengan perkaatan itu. Akan tetapi, ia menganggap bahwa introvert tidaklah seburuk yang Rici bayangkan. 

Awalnya, menyendiri itu tidak menyenangkan menurut Rici. Ia tidak punya teman curhat untuk berbagi kisah. Hidupnya pun terasa hampa begitu saja. Ditambah lagi, teman-temannya tak mau bergaul dengannya.

Banyak yang mengatakan jika orang yang suka menyendiri dan tidak suka bergaul adalah anak introvert. Banyak orang yang memandang bahwa anak introvert itu “anti sosial”. Namun, setelah Rici merasakannya, ia berpendapat bahwa introvert tak seburuk orang pikirkan. 

Tak semestinya orang dapat menyimpulkan bahwa anak introvert adalah mereka yang tak suka bergaul alias anti sosial. Bagi Rici, justru ada masanya juga kita bisa menjadi introvert atau menyendiri. Masih ada sisi positif yang dapat kita ambil ketika menyendiri, seperti menyegerkan pikiran dan batin, serta menemukan ide-ide baru. Namun, tetap saja bersosial itu juga terpenting. 

Kini Rici pun telah menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Ia pun bersyukur karena bisa setegar ini, walaupun banyak cobaan yang diterimanya. Rici yang ceria membuat teman-teman sekelasnya bahagia dan bersyukur mempunyai sahabat seperti Rici.

Selesai

Vivi Noer Febdra

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Ceritanya sederhana, tapi nilqi moralnya bagus banget. Ga nyesel bacanya.