Minggu, 21 Oktober 2018

Skenario Hidup Siapa yang Tahu


Ketika nasib tak sesuai harapan. Ketika lingkungan terkadang tak bersahabat. Namun, dukungan orang tualah membuat seketika tubuh itu menjadi semangat membara. Walaupun banyak cobaan, ia yakin bahwa skenario Tuhan jauh lebih indah.

Ia adalah Muhammad Rafly Tharhan. Pria disapa Rafly ini tak pernah patah semangat meraih asa barunya. Keinginannya untuk bisa masuk Jurusan Matematika ini terpaksa ia kubur sedalam-dalamnya karena sudah gagal dalam tes perguruan tinggi negeri (PTN).

Sebelumnya, ia mendapat saran dari orang tuanya untuk mengambil Jurusan Teknik Informatika. Mereka menganggap, teknologi akan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Hal itulah  membuat Rafly ingin mencobanya, walaupun belum memiliki passion.

Ketika diterima di Politeknik Negeri Jakarta, Rafly pun yakin, ini salah satu skenario Tuhan yang memang terbaik untuknya. Tak hanya itu, dukungan dari salah satu karibnya, Kak Ocid, juga membuatnya semakin semangat. 

Hingga hari demi hari ia lalui. Ketika awal-awal masuk kuliah, pria kelahiran Bogor, 7 Mei 1998 ini pun awalnya sempat ragu. “Karena masih terasa asing dan belum pernah belajar secara mendalam tentang teknologi komputer sih buat saya agak ragu awalnya, tetapi lama-kelamaan saya jadi penasaran juga dunia teknik informatika itu,” ucap Rafly.
 
Cobaan demi cobaan ia jalani dengan ikhlas, terutama pada awal kuliah. Rafly pun harus menghadapi lingkungan yang kurang menyenangkan. Ada saja temannya yang meminta pertolongan Rafly tanpa mengucapkan rasa terima kasih, walaupun masih ada yang tetap menghargainya.

“Ya begitulah, masalah meminta tolong paling gencar, tetapi sedikit yang bilang terima kasih. Banyak juga yang meminta, tetapi setelah diberikan ya seakan-akan tidak peduli. Hal ini buat saya tidak nyaman,” ucapnya dengan wajah penuh kecewa.

Tak hanya itu, untuk mendapatkan passion yang sesuai, ia membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Beberapa mata kuliah yang berat juga membuatnya sempat terpuruk. Walaupun begitu, ia sudah ikhlas dan ingin fokus merajut masa depannya. Rafly percaya, ini adalah ujian agar ia bisa lebih kuat ketika menghadapi sebuah masalah. 

Dari sinilah banyak sekali hikmah yang ia rasakan, setelah menjalani semua cobaan berat ini dengan keteguhan hatinya. Percaya atau tidak, Rafly merasa, semakin hari semakin terasa ringan dalam menjalani hidup.

Tak hanya itu, ia juga mendapatkan banyak sekali ilmu, seperti pendalaman materi tentang komputer dan juga bahasa pemrograman. Hal inilah membuat Rafly begitu tertarik untuk mengenal lebih jauh lagi dunia teknik informatika.

Tak disangka, Rafly telah menemukan passion yang sesuai untuknya, yaitu dalam bidang Android. Ia pun berkeinginan untuk bisa bergerak dalam pengembangan aplikasi Android. Dengan ini, ia berharap bisa berkontribusi di salah satu lembaga, yakni Rabithah Alawiyah.

Inilah buah dari ketegaran hatinya. Walaupun harus jatuh dalam keterpurukan, ia justru menemukan sebuah jalan masa depannya. Ya, masa depan untuk membahagiakan orang tuanya yang selama ini terus memberikan energi semangat.

Vivi Noer Febdra

Sabtu, 20 Oktober 2018

Efek Negatif Minum Memakai Sedotan

Sumber : hellosehat.com

Memang, sedotan mampu memudahkan orang ketika hendak minum, seperti minuman dingin ataupun minuman bersoda. Namun, sedotan yang pada umumnya terbuat dari plastik ini rupanya juga memberikan efek negatif jika dipakai sehari-hari. Berikut ini beberapa efek negatif sedotan bagi kesehatan Anda.

1. Mempercepat Keriput
Kebiasaan minum memakai sedotan ini rupanya dapat mempercepat keriput di area mulut. Hal itu bisa terjadi karena ketika minum, tentu gerakan bibir mengerucut. Tentu saja ini akan membuat sebagian masyarakat akan merasa tidak percaya diri karena timbulnya keriput.

2. Merusak Gigi
Memang, minum memakai sedotan ini untuk menghindari minuman langsung mengenai gigi agar gigi tidak rusak. Namun, jika menggunakan sedotan dengan cara salah, seperti menaruh ujung sedotan di depan gigi maka minuman yang masuk tetap akan terkena gigi atau minuman tak terarah secara langsung menuju kerongkongan. Hal ini membuat gigi Anda akan tetap rusak karena cara pemakaiannya yang salah.

3. Menimbulkan Obesitas
Plastik yang terbuat dari bahan kimia ini jika menyentuh minuman akan menimbulkan efek negatif. Memang, efek ini tidak terlalu besar. Namun, tetap membahayakan diri Anda. Mengutip dari detik.com, sebagian besar sedotan mengandung plastik berbasis minyak bumi yang disebut polypropylene dan Bisphenol A (BPA) dengan mudah membasahi bahan kimia dalam cairan. Bahan kimia plastik ini menyebabkan obesitas.

Itulah sedikit efek negatif penggunaan sedotan untuk dipakai minum. Memang, memakai sedotan tidak dilarang. Namun, lebih baik jika perhatikan pula kebersihan sedotan itu, cara pemakaian yang benar, dan terakhir tidak terlalu sering menggunakannya. Dengan begitu, kesehatan Anda akan tetap terjaga dengan baik. 

Vivi Noer Febdra

Sabtu, 13 Oktober 2018

Sinopsis Novel Tidak Hilang Sebuah Nama (Karya Galang Lufityanto)


Andrew yang hanya sebatas pengemudi taksi dengan penghasilan pas-pasan harus bisa mencukupi kebutuhan istri dan anak kembarnya. Oleh sebab itu, ketika ada lowongan pekerjaan di Warrandyte, Andrew pun langsung bersemangat. Mengingat gaji yang diterimanya akan lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya ini membuat Andrew lebih memilih pekerjaan baru, walaupun lokasinya jauh dengan tempat tinggalnya, Fitzroy. Sayangnya, Julie, istri Andrew, tak setuju dengan keinginan suaminya itu.

Julie pun mengatakan, sebaiknya Andrew urungkan niatnya karena ia tak sanggup jika harus menambah posisinya sebagai sosok ayah dan itu tak akan tergantikan oleh siapa pun kecuali Andrew sendiri. Julie melihat bahwa anak-anaknya, Olive dan Odive, begitu menyayangi ayahnya. Andrew terdiam dan mengerti apa yang Julie katakan tidaklah salah.

Karena kondisi yang tak memungkinkan, Julie pun hanya berpasrah dan menyetujui keputusan Andrew. Namun, ketika ia selesai mengikuti sejumlah tes dan hendak mencari rumah baru untuk keluarganya jika suatu saat ia diterima, dengan nahas Andrew jatuh ke jurang di sekitar perbukitan menuju Lilydale akibat mobilnya hilang kendali. Tubuh Julie pun terkapar ke lantai dan tak sadarkan diri setelah mendengar kabar dari polisi yang datang ke rumahnya.

Belasan tahun sudah anak kembar ini jalani hidup di sebuah apartemen yang terbilang murah di Melbourne. Olive yang bekerja sebagai petugas administrasi di Klinik Dr. Stark Nielsen (Psikolog klinis) merasa hari-harinya menyenangkan ketika secara tak langsung belajar menangani gangguan jiwa tiap pasien yang datang. Salah satunya ialah Mr. Byrne yang mengidap penyakit Necrophilia (hasrat untuk memenuhi rasa seksualnya dengan mayat). Wajah yang mengerucut dan tajam ini rupanya diam-diam menyukai Olive.

Namun, kehidupan Olive berbeda jauh dengan kembarannya, Odive, yang mengurung diri selama dua tahun karena luka di wajahnya akibat insiden kebakaran di rumah saudaranya. Hal ini membuat Odive tak percaya diri dan selalu iri melihat pesona kecantikan Olive. Karena kecemburuannya, Odive melakukan tindakan di luar rasa kemanusiaannya. 

Ia mencoba menyakiti Olive dengan menyayati wajahnya menggunakan pisau agar wajah Olive menjadi buruk rupa seperti Odive. Olive langsung kaget dan memohon agar Odive tidak melakukan hal yang tidak waras itu. Karena perlakuan kembarannya ini, Olive menyemprotkan air merica ke mata Odive. Pisau yang ada di tangannya pun dengan refleks membentuk sayatan di leher Olive.

Odive pun terkejut melihat Olive sudah tak bernyawa. Ia menyesal, tetapi hal ini bukanlah kesengajaan Odive. Akhirnya, ia membawa mayat tersebut ke bak mandi dan menggenanginya dengan air dan wangi-wangian. Setelah menutup pintu kamar mandi, ia melihat selembar kertas formulir yang pernah Olive bawa yang berisikan surat bahwa Odive akan dioperasi wajahnya.

Ia pun senang sekali karena kehidupannya akan berubah dan tidak harus berkurung diri. Setelah beberapa pekan pascaoperasi, wajah Odive memulih dan tampil cantik. Odive pun kini harus berperan menjadi Olive dan mengenakan kerudung agar orang sekitar tak curiga dengan kehilangan Olive. Odive pun heran mengapa Olive bertekad untuk pindah agama Islam.

Begitu pulang dan tiba di apartemennya, Odive merasa ada sesuatu yang tidak beres. Setelah ia melihat ada tetesan air dan menuju ke arah kamar mandi, ternyata mayat Olive hilang. Odive pun terkejut siapa yang telah mencurinya. Tak mungkin jika polisi atau pencuri yang mengambilnya.

Setelah berpikir keras, ia tersadar jika ini pasti perbuatan Mr. Byrne. Namun, setelah Odive bertanya, rupanya Mr. Byrne tidak mengambil mayat saudara kembarnya. Begitu pulang dan sampai di apartemennya dan melihat semua yang ada, Odive tak mengira jika Charles, satpam apartemen, mengambil mayat Olive dan meletekkan di kamar mandi tempat ruang kerjanya karena Charles curiga ketika melewati ruang depan apartemen mereka yang bau busuk.

Charles pun kesal dan ingin membalas dendam untuk membunuh Odive. Namun, langkah itu gagal ketika polisi datang dan menembak Charles. Dari situlah, Odive atau “gadis malang yang beruntung” ini selamat dari maut, walaupun ia juga harus ditangkap dan menjalani hidupnya selama dua tahun di jeruji besi yang dingin. 

Vivi Noer Febdra

Status Agama Tak Menghalangi Asa

Sumber : http://www.spilling-the-beans.co.uk

Perjuangan Noor Tagouri memang tak bisa diremehkan sebelah mata. Wanita kelahiran Kota Bowie, Maryland, Amerika Serikat, ingin sekali mewujudkan impiannya untuk menjadi penyiar berita. Walaupun berhijab, ia yakin bahwa itu bukanlah penghalangnya untuk meraih cita-cita.

“Sebelumnya, tak pernah terpikirkan untuk memakai hijab dan saya berpikir bahwa dengan hijab ini jangan dijadikan halangan (menjadi penyiar berita). Justru saya ingin menjadi penyiar berita pertama yang mengenakan hijab,” ucap Noor Tagouri dalam lansiran detik.com.

Diakui, Noor Tagouri merupakan anak yang cerdas. Hal itu terbukti pada saat usia 18 tahun, ia lulus di Prince George's Community College dengan indeks prestasi kumulatif yang sempurna, yakni 4. Hal inilah ia bisa melanjutkan studinya ke Universitas Maryland bidang jurnalisme penyiaran, pembangunan internasional, dan manajemen konflik.

Tak hanya itu, proses yang terbilang tidak instan inilah membuat Noor Tagouri bisa diterima magang di beberapa media, salah satunya di stasiun TV ABC. Perjuangan Noor inilah yang membuahkan hasil dan dapat meraih cita-citanya.

Walaupun hidup sebagai minoritas di Amerika Serikat, Noor menganggap tak pernah mengalami diskriminasi. Hal itu dapat ia buktikan dengan keberhasilannya menjadi penyiar berita.

Hingga munculnya Noor Tagouri dengan hijabnya dalam sebuah majalah dewasa Playboy ini  merupakan bentuk sikapnya untuk memberi tahu kepada semua orang bahwa perempuan Muslim bukanlah orang yang tertekan akan status agama yang minoritas. Walaupun begitu, masih ada netizen yang kontra akan sikap Noor tersebut.

“Saya ingin menyampaikan pesan kepada khalayak baru. Jika saya tidak lakukan ini, tidak akan pernah mendengar cerita tentang perempuan Muslim Amerika,” ujar Noor, dalam sebuah lansiran www.bbc.com.

Vivi Noer Febdra

Apakah Introvert Terlalu Buruk?


Tiupan angin yang kencang membuat tumpukan lembaran kertas menjadi bertaburan. Wanita ini pun dengan sontaknya langsung membereskan kertas-kertas berharganya itu. Sayangnya, salah satu kertasnya terjatuh tepat di atas genangan air. Rasa kecewa pun tak dapat disembunyikan dari wajah si wanita berambut pirang tersebut.

 Ia adalah Rici. Wanita yang duduk di bangku sekolah menengah atas ini selalu menyendiri di sebuah taman ketika sore hari. Melukis dan bermain gitar adalah teman setianya sejak kecil. Ia bisa merasakan kebahagiaan sekaligus rasa nyamannya melalui hobi itu. Wajar saja jika salah satu lukisannya yang rusak membuatnya kecewa. 

Hari demi hari ia selalu mengisi kehidupannya seperti ini. Mungkin, hobinya bisa menjadi teman yang membuatnya bahagia. Namun, tetap saja ia tidak merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Menyendiri dan jauh dari teman-teman. 

Masa SMA adalah masa yang terindah bagi anak remaja ketika ia memiliki banyak sahabat dan bisa bermain bersama. Sayangnya, Rici tidak mendapatkan kesempatan itu. “Introvert” menjadi julukan baginya yang baru pindah dari luar kota. Rasa geram pun berkecamuk di dalam hati.

Memang, semenjak pindah dari Jakarta, Rici belum bisa membaur dengan mereka. Bukan ia yang tidak ingin menyesuaikan dengan lingkungan sekolahnya, melainkan teman-temannya yang justru menjauhi Rici. Mereka merasa Rici tak mau bergaul dengan anak-anak desa seperti mereka. 

Rici dan keluarga pun  terpaksa pindah ke salah satu kota di Sulawesi karena ayahnya mendapat tugas di daerah tersebut dalam waktu jangka panjang. Hal itulah membuat Rici sangat terpukul ketika berpisah dengan sahabatnya yang ada di Jakarta. Walaupun saling mengontak melalui media sosial, tetap saja Rici masih merasa kesepian.

Sikap teman-teman sekelasnya membuat Rici terperangkap dalam situasi. Hanya hobilah yang menemani di kala ia menyendiri. Itu sebabnya mereka menganggap bahwa Rici anak introvert. Hingga suatu hari Rici pun berada di titik jenuhnya. 

 “Kalianlah yang buat aku menjadi introvert. Kalian juga yang tidak mau mendengarkan penjelasanku mengapa aku selalu mengurung diri. Aku sudah beri tahu alasannya, tapi apakah kalian mendengarkanku?”

Lantangan suara gadis pirang dengan gemetar membuat suasana kelas menjadi sunyi. Ya, sunyi bagaikan rumah kosong yang tak berpenghuni. Air mata pun kembali membasahi wajah Rici.
Bayang-bayang julukan “introvert” ini terus menghantuinya. Hingga bel istirahat berbunyi, Rici pun langsung pergi ke musala yang berada di ujung sudut sekolah. 

Basuhan air wudu membuat hati dan pikirannya sedikit tenang. Bersujud di hadapan Allah menjadi solusi untuk mencurahkan seluruh kerisauannya. Ke mana Rici yang sebenarnya? Rici yang dikenal dengan anak yang ramah, asyik, dan menyenangkan menjadi hilang begitu saja.  

Ketika kedua tangan menyapu air matanya yang terus mengalir, tiba-tiba datang seseorang dari belakang yang menghampiri Rici. Rupanya Cindi yang merupakan teman sekelas Rici. Cindi pun tersenyum melihat raut wajah Rici yang begitu kaget. Ternyata, selama ini Cindi selalu memperhatikan Rici sejak awal masuk sekolah dan pernah melihat Rici menangis di sebuah taman.
 
“Aku tidak seburuk yang mereka pikirkan. Jika memang aku introvert, apakah mereka pantas memperlakukan aku seperti itu?”. Ucapan Rici dengan isak tangis ketika di taman itulah yang menyakini hati Cindi bahwa Rici tak seburuk yang mereka pikirkan. Cindi pun langsung memeluk Rici. Cindi percaya bahwa Rici sebenarnya anak yang menyenangkan. Rici pun terharuh karena di saat ia sudah terpuruk, ada saja yang membuatnya bangkit.

Cindi pun selalu memberikan dukungan kepada Rici bahwa ia harus bangkit, walaupun masih ada teman-teman yang terus mengucilkannya. Benar saja, semakin hari Rici semakin percaya diri. Hingga suatu hari diadakannya kompetisi drama musikal antarkelas di sekolahnya. Kembali lagi, rasa kekhawatiran terus menghampiri Rici.
“Aku tak yakin apakah aku bisa ikut tampil. Masih banyak teman sekelas yang masih tidak suka denganku,”
“Justru dari sanalah kamu bisa buktikan diri kamu yang sebenarnya, Rici,” ujar Cindi dengan senyum yang merekah. 

Memang, semangat Cindi ini benar-benar membuat Rici semakin percaya diri. Hingga suatu hari mereka pun kumpul untuk berdiskusi mengenai konsep yang akan dibawa. Tiba-tiba, “Rici punya ide bagus nih kawan,” teriak Cindi dengan nada semangat. Rici pun kaget dengan sikap Cindi tersebut.

Memang, beberapa hari sebelum diskusi ketika Rici sedang di taman sambil membawa gitarnya, ia sempat memikirkan konsep apa yang kiranya bagus yang akan ditampilkan oleh kelasnya. Dari situlah Rici menemukan sebuah ide. Ketua kelas pun memberikan kesempatan kepada Rici untuk memaparkan konsepnya itu.

Ragu, takut, dan deg-degan bercampur menjadi satu. Tatapan sinis teman-temannya membuat Rici menjadi gugup. Mengapa semua ini membuat Rici menjadi tertekan?
 
Namun, senyuman lesung pipit Cindi ditambah dengan dukungan penuh semangat membuat Rici menjadi sedikit lebih tenang. Tak terduga jika ternyata semua teman sekelasnya setuju dengan konsep Rici. Mereka pun akhirnya latihan setiap tiga kali dalam seminggu. Kini, teman-teman Rici sadar bahwa Rici bukanlah seburuk yang mereka pikirkan. 

Hingga perlombaan pun tiba, mereka menyiapkan semuanya agar penampilannya maksimal. Begitu juga dengan Rici, ia menyiapkan beberapa perlengkapan, salah satunya si gitar kesayangannya. Namun, insiden pun terjadi membuat Rici dan teman-temannya menjadi panik seketika.

“Senar gitarmu putus, Rici. Bagaimana ini? Apakah kita masih bisa melanjutkan drama musikal ini?” bisik Rio si ketua kelas. Ternyata, jauh-jauh hari, Rici sudah menyiapkan beberapa botol bekas berisikan pasir dan beras serta beberapa galon kosong yang digunakan untuk kondisi darurat. Rici pun melakukan ini karena ia pernah di satu situasi yang sama pada saat pementasan ketika masih SMP. 

Akhirnya, semua pun kembali berpentas dengan maksimal hingga pertunjukkan mereka selesai. Teman-teman sekelas Rici pun memuji ide dan kerja kerasnya selama ini. Walaupun tidak semaksimal seperti saat latihan, setidaknya mereka dapat menyiasatinya dengan baik. Sayangnya, kemenangan belum diraih oleh kelas Rici. 

Mereka pun tetap menghargai keputusan juri dan mengakui bahwa penampilan kelas lain jauh lebih baik dari mereka. Namun, tetap saja kelas-kelas lain dan semua guru mengapersiasi kekompakan mereka.
 
“Aku bangga padamu, Rici. Kamu tidak hanya baik, menyenangkan, tetapi juga cerdas dan mempunyai jiwa semangat yang tinggi. Aku kagum padamu. Selama ini kami salah menilaimu, maafkan kami semua ya Rici karena kami selalu menilaimu buruk,” ucap Naya, salah satu teman sekelas Rici. 

Kini, senyum Rici semakin merekah dan wajahnya pun berseri. Memang, ia kesal dengan teman-teman barunya yang memandang anak introvert itu buruk. Ia juga menggerutu dalam hati mengapa ia disebut dengan perkaatan itu. Akan tetapi, ia menganggap bahwa introvert tidaklah seburuk yang Rici bayangkan. 

Awalnya, menyendiri itu tidak menyenangkan menurut Rici. Ia tidak punya teman curhat untuk berbagi kisah. Hidupnya pun terasa hampa begitu saja. Ditambah lagi, teman-temannya tak mau bergaul dengannya.

Banyak yang mengatakan jika orang yang suka menyendiri dan tidak suka bergaul adalah anak introvert. Banyak orang yang memandang bahwa anak introvert itu “anti sosial”. Namun, setelah Rici merasakannya, ia berpendapat bahwa introvert tak seburuk orang pikirkan. 

Tak semestinya orang dapat menyimpulkan bahwa anak introvert adalah mereka yang tak suka bergaul alias anti sosial. Bagi Rici, justru ada masanya juga kita bisa menjadi introvert atau menyendiri. Masih ada sisi positif yang dapat kita ambil ketika menyendiri, seperti menyegerkan pikiran dan batin, serta menemukan ide-ide baru. Namun, tetap saja bersosial itu juga terpenting. 

Kini Rici pun telah menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Ia pun bersyukur karena bisa setegar ini, walaupun banyak cobaan yang diterimanya. Rici yang ceria membuat teman-teman sekelasnya bahagia dan bersyukur mempunyai sahabat seperti Rici.

Selesai

Vivi Noer Febdra