Sabtu, 29 September 2018

Cerdas Memilih Berita demi Memerangi Hoax


Sumber : prfmnews.com
 Seiring berjalannya waktu, teknologi kian berkembang. Hampir semua di wilayah bumi ini diasupi oleh teknologi. Tak dimungkiri jika teknologi sangat berperan dalam memenuhi kebutuhan manusia. 

Salah satu munculnya perkembangan teknologi ialah adanya internet. Berbagai manfaat pun diberikan oleh internet, seperti memudahkan untuk mencari informasi di situs web. Selain itu juga munculnya berbagai macam media sosial yang tidak hanya sebatas sarana hiburan untuk mengapresiasikan diri dari sebuah momen, tetapi juga dalam berbagi informasi terbaru.

Kehadiran media sosial dalam wadah untuk menyampaikan informasi terbaru ini memudahkan sekaligus memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Karena pesatnya teknologi ini, membuat masyarakat ingin mendapatkan informasi dengan cepat. Namun, hal inilah justru membuat media luring (luar jaringan), salah satunya media cetak mengalami penurunan daya konsumen pembaca.

Apa penyebabnya? Ya, kecepatan dalam menyajikan informasi yang menjadi salah satu penyebabnya. Media luring pada prinsipnya menyampaikan informasi yang aktual dan akurat. Hal ini berarti informasi di dalamnya tentu lebih mendalam, ketimbang dengan media daring (dalam jaringan), salah satunya media sosial. 

Media daring sendiri lebih mengutamakan informasi yang cepat, walaupun tak menutup kemungkinan berbagai media daring juga menyeimbangkannya dengan keakuratan. Akan tetapi, tentu informasinya tidak selengkap dan sedalam media luring. Lantas, konsumen pun lebih banyak mencari berbagai informasi di media daring.

Sayangnya, sebagian masyarakat yang lebih sering mencari informasi, seperti di media sosial ini tak melihat sisi negatifnya, yaitu mengenai informasi hoax. Lantas apakah hoax itu? Dalam sebuah lansiran jurnal Manajemen dan Kewirausahaan mengenai “Perilaku Pengguna dan Informasi Hoax di Media Sosial” oleh Dedi Rianto Rahadi, Hoax adalah usaha untuk menipu pembaca atau pendengar untuk mempercayai sesuatu, padahal pencipta berita palsu tersebut tahu jika berita yang disebarkannya adalah tidak sesuai fakta. 

Tentunya banyak para oknum memberikan informasi hoax ini demi kepentingan pribadi, antara lain untuk kesenangan diri, bahkan menjurus para pembaca agar terpengaruh akan informasi tersebut. Hal ini membuat sebagian masyarakat tak pandai memilah mana yang hoax dan mana yang tidak. 

Para pembaca pun biasanya cenderung lebih menyukai informasi yang sifatnya kontroversial. Hal ini menjadi acuan bagi para pembuat dan penyebar hoax demi mendapatkan simpatik dari masyarakat. Parahnya, kebanyakan dari mereka tak memedulikan efek dari perbuatannya.

Fatalnya lagi, munculnya hoax ini juga bisa memecahkan kalangan masyarakat. Hal ini tentunya menjadi sorotan bagi pemerintah dengan membuat sebuah peraturan dan sanksi mengenai larangan pembuatan dan penyebaran hoax.

Lantas, apa yang harus dilakukan agar hoax tidak semakin merajalela seiring berkembangnya teknologi? Hoax sendiri tak akan musnah jika tidak melibatkan semua kalangan. Artinya, tidak hanya menyalahkan atau menghukum bagi pembuat dan penyebar hoax saja, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih cerdas dalam memilih berita atau informasi.

Ketika berbagai informasi atau berita muncul, pertama yang harus dilakukan masyarakat ialah bisa menelaah dari mana sumber berita itu disebar. Hal itu dikarenakan jika sumbernya sudah tepercaya, boleh jadi berita tersebut bukanlah hoax

Selanjutnya, jangan mudah menerima berita yang tidak lengkap dan langsung menyebarnya. Hal ini dikarenakan akan menimbulkan berbagai persepsi atau pandangan tersendiri bagi masyarakat yang menerimanya. Akhirnya, informasi tersebut menjadi tidak jelas kebenarannya.

Dari semua itulah dibungkus dengan sikap kritis agar bisa membedakan dan tidak mudah terpengaruh akan adanya hoax. Dengan demikian, para pembuat dan penyebar hoax ini akan merasa dirinya gagal dalam menyebarkan hoax. Lama-kelamaan memungkinkan juga bagi mereka menjadi semakin malas untuk membuat dan menyebarkan hoax.

Oleh sebab itu, hoax bisa semakin teratasi dan berkurang. Inilah yang dikatakan bahwa masyarakat harus “cerdas dalam memilih berita”.

Vivi Noer Febdra

12 komentar:

Dewi Astari mengatakan...

Yap setuju deh sebagai pembaca kita harus cerdas,dimana kita harus mengkroscek ulang suatu berita dan membandingkan satu artikel dengan artikel lainnya agar teruji kebenarannya.

Vivinoer mengatakan...

Betul banget Dewi agar hoax terus semakin berkurang ya :)

Risti mengatakan...

Harus selektif milih berita. Makasih ilmunya👍

Serpihan Cerita mengatakan...

Mantap, makasii ilmunya yaa! kita memang harus pintar memfilter berita, semangat!

Journaley mengatakan...

Nice info viii. Pas banget buat zaman milenial seperti ini agar terhindar dari hoax. Semangat terus yaa!

Unknown mengatakan...

Nice info,thank you for your article,lanjutkan!

Unknown mengatakan...

Semua memang harus terlibat yaa supaya hoax juga tidak terus-terusan merajalela, walau diakui memang masih banyak yang suka liat berita atau informasi yang lebih kontroversial tanpa melihat apa informasi itu udah benar atau belum.

Unknown mengatakan...

Thanks for the information yaa

Unknown mengatakan...

Sangat setuju, sebelum kita memberi tau ke orang lain, alangkah lebih baiknya berita dan/atau informasi kita cari kebenarannya terlebih dahulu, biasa disebut tabayyun, agar mengetahui kebenaran berita tersebut.

Unknown mengatakan...

Makasih infonya, dari sini saya bisa belajar agar lebih selektif dalam membaca berita :)

Anonim mengatakan...

Setuju... Jadilah manusia yang cerdik setiap mendengar berita apapun itu. This is nice ;)

Lisa Fania mengatakan...

Pengamatan dan ulasan mengenai hoax sudah cukup baik. Hanya saja diksi dalam penulisannya perlu diperbaiki lagi.