Sabtu, 29 September 2018

Di Balik Megah Masjid Istiqlal

Sumber :dream.co.id

Siapa yang tak mengenal Masjid Istiqlal. Masjid ini berlokasi di Jalan Taman Wijaya Kusuma, Jakarta Pusat. Masjid Istiqlal yang dahulunya masjid terbesar di Asia Tenggara, kini telah menjadi masjid ketiga terbesar di dunia, setelah Masjid Al-Haram di Mekkah Al-Mukarramah dan Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwarah.

Ternyata, kemegahan yang ada di setiap bangunannya memiliki sejumlah makna. Tak heran jika masjid ini menjadi kebanggaan umat Islam di Indonesia. Apa sajakah di balik megahnya Masjid Istiqlal itu?


Sejarah Masjid Istiqlal
“Jangan sekali-kali melupakan sejarah”, kalimat ini juga patut dijalani untuk mengetahui sejarah Masjid Istiqlal lebih dalam. Istiqlal berasal dari bahasa arab yang berarti kemerdekaan. Hal ini memiliki makna tersendiri bagi Indonesia yang berarti kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan. 

Friedrich Silaban, berkeyakinan Kristen Protestan, merupakan seorang arsitek yang telah memenangkan sayembara rancang bangun Masjid Istiqlal yang mana juri-jurinya berasal dari tokoh Islam dan bangsa.

Pemancangan batu pertama ini dilakukan oleh Presiden Soekarno sebagai tanda dimulainya bangun Masjid Istiqlal pada 24 Agustus 1961. Hingga 17 tahun kemudian, masjid ini selesai dibangun dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978.

Simbolisme Masjid Istiqlal
Di balik megahnya Masjid Istiqlal ini juga tersimpan berbagai simbol dari setiap aspek bangunannya.  Hal ini terlihat ketika tiba di Masjid Istiqlal, terdapat tujuh gerbang yang merupakan lambang dari tujuh lapisan langit dan bumi. Di setiap gerbangnya pun diberi nama Asmaul Husna, yaitu Al-Fattah, Al-Quddus, Al-Malik, As-Salam, Al-Ghaffar, Ar-Razaq, dan Ar-Rahman. 

Uniknya, masjid ini hanya memiliki satu menara. Hal ini menunjukkan keesaan Allah SWT. Selain itu, kubah masjid tersebut memiliki diameter 45 meter. Hal ini merupakan simbol dari tahun kemerdekaan Indonesia. 

Begitu masuk ke dalam tempat ibadah para jemaah, terdapat 12 tiang penyangga kubah utama yang berdiri dengan tegak dan kukuh. Ini merupakan lambang dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. 

Bangunan yang terdiri dari lima lantai ini juga membuat masjid semakin terasa megah. Ternyata, lima lantai inilah bermakna dari rukun Islam dan Pancasila. 

Masjid Istiqlal yang memiliki luas keseluruhan 9,8 hektare ini bisa menampung hingga 200 ribu jemaah. Hal inilah layak dijadikan sebagai masjid ketiga terbesar di dunia. 

Tak heran, banyak para pengunjung yang datang dari luar kota ingin menyempatkan diri untuk melaksanakan ibadah sekaligus merasakan suasana dari kemegahan Masjid Istiqlal. Bahkan, tak sedikit juga para turis asing yang penasaran untuk melihat Masjid Istiqlal.

Vivi Noer Febdra

Esensi Kaligrafi Memberikan Makna dalam Islam

Siapa yang tak mengetahui kaligrafi. Banyak masjid memberikan sentuhan kaligrafi. Namun, siapakah yang tahu jika kaligrafi diciptakan untuk mencerminkan kedalaman makna bagi Islam?

Dalam lansiran Jurnal Perkembangan Kaligrafi oleh Sirojuddin A. R. yang dikutip dari artikel “International Islamic Calligraphy Competition”, kaligrafi memiliki makna yang luhur yang mana kedudukannya dalam kesatuan ruang dan waktu bagi kebudayaan Islam tidak diragukan lagi. Hal ini berarti kaligrafi berperan dominan dalam perjalanan seni Islam.

Muhammad Yusuf Aidid, M.Si, lulusan S2 Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia yang merupakan dosen Politeknik Negeri Jakarta, mengatakan, di zaman Bani Abbasiyah, masa Kekhalifahan Al-Makmun, pada saat itu memiliki misi bagaimana caranya untuk menyiarkan agama Islam bukan lagi dengan hal yang sudah ada. Oleh sebab itu, kaligrafi ini dikembangkan.

Memang, Nabi Muhammad SAW. memerintahkan para pemuda untuk mengajarkan pengetahuan membaca dan menulis. Dilansir dari Republika.co.id, Nabi Muhammad SAW. mendorong untuk memperindah tulisan melalui kaligrafi, seperti yang diriwayatkan dalam hadist Tabrani dan Al-Kabir, “Ikatlah ilmu dengan tulisan” dan “Keindahan tulisan adalah warisan kamu. Ia adalah salah satu kunci pencaharian”.

Oleh sebab itu, umat Islam berhasrat untuk memperelok tulisan Alquran dengan dasar kaligrafi. Tak heran, jika kaligrafi banyak ditemukan di sebagian masjid, walaupun tak semuanya masjid menambahkan kaligrafi tersebut.

Namun, jangan sebut Indonesia jika tak memiliki sejarah, salah satunya kaligrafi. Sama seperti dengan sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW. masuk ke Indonesia, kaligrafi mulai dikenalkan oleh Wali Songo. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat Indonesia akan adanya agama Islam.

Tak heran jika kaligrafi terus diminati oleh umat Islam, salah satunya Indonesia. Tulisan Alquran yang diaplikasikan dalam goresan tinta memiliki estetika tersendiri bagi yang melihatnya. Hal inilah menimbulkan kedalaman makna setiap melihat kaligrafi.

Keindahan kaligrafi memberikan pandangan bahwa Islam banyak melahirkan budaya. Budaya yang beragam ini juga membuat umat Islam pun semakin bangga dan bisa terus untuk menerapkannya. Tak terkecuali dengan Indonesia. 

Vivi Noer Febdra
 

Cerdas Memilih Berita demi Memerangi Hoax


Sumber : prfmnews.com
 Seiring berjalannya waktu, teknologi kian berkembang. Hampir semua di wilayah bumi ini diasupi oleh teknologi. Tak dimungkiri jika teknologi sangat berperan dalam memenuhi kebutuhan manusia. 

Salah satu munculnya perkembangan teknologi ialah adanya internet. Berbagai manfaat pun diberikan oleh internet, seperti memudahkan untuk mencari informasi di situs web. Selain itu juga munculnya berbagai macam media sosial yang tidak hanya sebatas sarana hiburan untuk mengapresiasikan diri dari sebuah momen, tetapi juga dalam berbagi informasi terbaru.

Kehadiran media sosial dalam wadah untuk menyampaikan informasi terbaru ini memudahkan sekaligus memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Karena pesatnya teknologi ini, membuat masyarakat ingin mendapatkan informasi dengan cepat. Namun, hal inilah justru membuat media luring (luar jaringan), salah satunya media cetak mengalami penurunan daya konsumen pembaca.

Apa penyebabnya? Ya, kecepatan dalam menyajikan informasi yang menjadi salah satu penyebabnya. Media luring pada prinsipnya menyampaikan informasi yang aktual dan akurat. Hal ini berarti informasi di dalamnya tentu lebih mendalam, ketimbang dengan media daring (dalam jaringan), salah satunya media sosial. 

Media daring sendiri lebih mengutamakan informasi yang cepat, walaupun tak menutup kemungkinan berbagai media daring juga menyeimbangkannya dengan keakuratan. Akan tetapi, tentu informasinya tidak selengkap dan sedalam media luring. Lantas, konsumen pun lebih banyak mencari berbagai informasi di media daring.

Sayangnya, sebagian masyarakat yang lebih sering mencari informasi, seperti di media sosial ini tak melihat sisi negatifnya, yaitu mengenai informasi hoax. Lantas apakah hoax itu? Dalam sebuah lansiran jurnal Manajemen dan Kewirausahaan mengenai “Perilaku Pengguna dan Informasi Hoax di Media Sosial” oleh Dedi Rianto Rahadi, Hoax adalah usaha untuk menipu pembaca atau pendengar untuk mempercayai sesuatu, padahal pencipta berita palsu tersebut tahu jika berita yang disebarkannya adalah tidak sesuai fakta. 

Tentunya banyak para oknum memberikan informasi hoax ini demi kepentingan pribadi, antara lain untuk kesenangan diri, bahkan menjurus para pembaca agar terpengaruh akan informasi tersebut. Hal ini membuat sebagian masyarakat tak pandai memilah mana yang hoax dan mana yang tidak. 

Para pembaca pun biasanya cenderung lebih menyukai informasi yang sifatnya kontroversial. Hal ini menjadi acuan bagi para pembuat dan penyebar hoax demi mendapatkan simpatik dari masyarakat. Parahnya, kebanyakan dari mereka tak memedulikan efek dari perbuatannya.

Fatalnya lagi, munculnya hoax ini juga bisa memecahkan kalangan masyarakat. Hal ini tentunya menjadi sorotan bagi pemerintah dengan membuat sebuah peraturan dan sanksi mengenai larangan pembuatan dan penyebaran hoax.

Lantas, apa yang harus dilakukan agar hoax tidak semakin merajalela seiring berkembangnya teknologi? Hoax sendiri tak akan musnah jika tidak melibatkan semua kalangan. Artinya, tidak hanya menyalahkan atau menghukum bagi pembuat dan penyebar hoax saja, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih cerdas dalam memilih berita atau informasi.

Ketika berbagai informasi atau berita muncul, pertama yang harus dilakukan masyarakat ialah bisa menelaah dari mana sumber berita itu disebar. Hal itu dikarenakan jika sumbernya sudah tepercaya, boleh jadi berita tersebut bukanlah hoax

Selanjutnya, jangan mudah menerima berita yang tidak lengkap dan langsung menyebarnya. Hal ini dikarenakan akan menimbulkan berbagai persepsi atau pandangan tersendiri bagi masyarakat yang menerimanya. Akhirnya, informasi tersebut menjadi tidak jelas kebenarannya.

Dari semua itulah dibungkus dengan sikap kritis agar bisa membedakan dan tidak mudah terpengaruh akan adanya hoax. Dengan demikian, para pembuat dan penyebar hoax ini akan merasa dirinya gagal dalam menyebarkan hoax. Lama-kelamaan memungkinkan juga bagi mereka menjadi semakin malas untuk membuat dan menyebarkan hoax.

Oleh sebab itu, hoax bisa semakin teratasi dan berkurang. Inilah yang dikatakan bahwa masyarakat harus “cerdas dalam memilih berita”.

Vivi Noer Febdra

Bangkit Setelah Kegagalan Menimpa

Sumber : foto pribadi
Kampung Bulak Timur, Kota Depok, menjadi tempat bagi para penjual menawarkan berbagai dagangannya di ruko yang saling berjejer. Banyak masyarakat yang membeli berbagai pakaian dalam bentuk kodian. Tak jarang juga para penjual memproduksi sendiri dagangannya di rumah. 
Tak terkecuali dengan Bhakti Agustiawan. Ia memulai bisnisnya sejak 1997. Ia pun membeli ruko ini sebagai tempat untuk menjual berbagai jenis pakaian.  

Seiring berjalannya waktu, Bhakti menambah usahanya dengan menjual alat-alat konveksi. Bisnis ini ia tekuni bersama istrinya. Ia pun membagi tugas bersama istrinya yang mana Bhakti menawarkan dagangannya berupa alat-alat konveksi, sedangkan istrinya memproduksi pakaian-pakaian dalam wanita dengan dibantu oleh karyawannya.

Suka dan duka bagi Bhakti tentu dirasakannya selama berbisnis di sini. Banyak pembeli yang puas dengan hasil dagangannya. Harga yang ditawarkannya juga terjangkau. Inilah yang membuat Bhakti selalu mensyukuri atas rezeki yang Tuhan berikan. 

Tak hanya itu, Bhakti juga harus merasakan pahitnya kehidupan dalam usaha bisnisnya. Kebaikan dalam pelayanannya tak menutup kemungkinan adanya orang untuk menipunya. Salah satunya seorang wanita yang sudah berusia matang mengunjungi rukonya untuk membeli sejumlah alat-alat konveksi.

Seperti biasa, Bhakti melayani pembelinya sebagai raja. Wanita tersebut menjanjikan kepada Bhakti untuk membayar belanjanya dengan menggunakan transfer. Bhakti pun tak memiliki firasat buruk kepadanya. 

Setelah wanita tersebut pergi dengan membawa belanjanya, Bhakti pun baru tersadar jika ia telah ditipu. Biaya transfer tersebut tidak sampai ke rekening Bhakti. Pria kelahiran 1968 ini pun harus kehilangan rezekinya hingga puluhan juta rupiah. 
 
“Ya saya baru sadar kalau saya sudah ditipu. Setelah cerita ke warga, ternyata ada juga yang mengalami ini sama kayak saya dan ciri-cirinya pun persis dengan yang saya ceritakan itu, tetapi yang namanya dagang mau gimana lagi, terima dan ikhlas saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Walaupun ujian terus menghampirinya, ia tak pernah putus asa sebab ia yakin Tuhan telah menyiapkan rezeki untuknya. Peristiwa ini memberikan pelajaran baginya untuk lebih berhati-hati lagi dalam berbisnis. Bangkit dalam kegagalan menjadi landasan bagi Bhakti untuk mencapai keberhasilan demi keluarganya.

Vivi Noer Febdra